Rabu, 05 Mei 2010

ESENSI TASAWUF[1]

OLEH

H. DUSKI SAMAD[2]

1. Pengantar
Apabila Anda menggali sumur, Anda harus menggalinya jauh ke dalam sampai Anda menemukan sumber mata airnya. Dapatkah sumur itu penuh tanpa mencapai sumber yang dalam itu? Bila Anda bergantung pada hujan atau sumber luar lain untuk mengisi sumur itu, maka air itu hanya akan menguap atau diserap oleh tanah. Lalu, bagaimana Anda dapat membasuh diri Anda atau menghilangkan dahaga Anda? Hanya jika Anda menggali cukup dalam untuk mendapatkan mata air, maka Anda akan sampai pada sumber air yang tak habis-habisnya. Demikian juga halnya, jika Anda hanya membaca ayat-ayat dari kitab suci, tanpa menggali lebih dalam untuk mencari maknanya, hal itu seperti menggali sebuah sumur tanpa mencapai mata airnya atau seperti mencoba mengisinya dengan air hujan. Kedua cara ini tidak akan memadai. Hanya apabila Anda membuka mata air yang ada di dalamnya dan ilmu Tuhan mengalir dari sana, maka mata air sifat-sifat Tuhan akan mengisi hatimu. Hanya setelah itu Anda dapat menerima kekayaan-Nya. Hanya setelah itu Anda akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Kearifan dan ilmu Tuhan ini harus timbul dari dalam diri Anda; kisah Tuhan dan doa mesti dipahami dari sisi batin. Maka Anda akan memperoleh semua yang Anda butuhkan untuk diri Anda, dan Anda juga akan merasa cukup untuk berbagi dengan orang lain.

2. Pengertian Tasawuf.
Tasawuf dalam wacana keilmuan barat disebut misticism (mistisisme Islam), kalangan orentalis menyebutnya sufisme. Kata mistisisme berasal dari bahasa Yunani “myein” artinya “menutup mata”. Mistisisme dalam pengertian umum, khususnya dalam artian lektur barat dipahami sesuatu yang bertalian dengan “rahasia-rahasia Tuhan” atau pengetahuan bercampur cinta, yang jauh dari kenyataan irrasional, atau sumber pemikiran yang pancarannya menjernihkan pikiran dan memberikannya pengetahuan tentang tarekat kerohanian. Sedangkan mistisisme Islam adalah aspek dalam (esotoris) dari agama wahyu atau ortodoks, terikat kepada metode-metode dan tekhnik-tekhnik kerohanian yang bersumber dari wahyu itu, dan bukan kepada mimpi kabur, tingkah laku individualistik dan khayalan atau yang paling celaka dari semuanya sampai kepada bentuk-bentuk pseudo-okultisme yang terpisah jauh dari konteks keagamaan.[3]
Tasawuf juga disebut pengetahuan tentang diri. Tasawuf adalah pencapaian karakter mulia melalui penyucian hati. Tasawuf adalah adab. Seseorang yang tergerak untuk mencapai pengetahuan tentang Allah adalah mustashawwif. Seseorang yang telah tersucikan, disebut seorang sufi., Sufi sempurna yang diketahui oleh manusia, disebut seorang malamatiyyah. Tasawuf adalah pengetahuan yang membawa sang penempuh (salik) mendaki pengetahuan tanpa akhir tentang Allah.[4]
Tujuan utama tasawuf adalah “Ilahi”. “Engkau jua yang menjadi tujuan dan keredaan Engkau yang daku cari”. Tasawuf menjurus sepenuhnya kepada usaha mendekatkan kepada Allah S.W.T. mengabdikan diri kepada-Nya sebaik mungkin dan mengenali-Nya sebagaimana layaknya. Pokok ajaran tasawuf adalah penyucian hati. Hati yang suci bisa dibawa menghadap Allah, bahkan bisa bersatu dengan Allah.
Memperhatikan pentingnya penyucian hati maka dalam menetapkan esensi ajaran tasawuf terdapat dua pandangan berbeda. Pendapat pertama, memandang bahwa ajaran tasawuf adalah zuhud. Yaitu, cara hidup yang terkonsentrasi penuh dengan ibadah kepada Allah, dan meninggalkan kemewahan dan perhiasan duniawi. Menurut pandangan ini, figur seorang sufi sejati adalah Hasan Basri, Sofyan al-Tsauri dan para sahabat Nabi seperti Abu Dzar al-Ghafiri, Abu Hurairah dan lainnya. Pendapat kedua, menjelaskan bahwa tasawuf sesungguhnya adalah pencapaian penghayatan batin sampai ke fana’ dan ma’rifat kepada Allah, yaitu pencapaian penghayatan tertinggi dengan mengadakan tatap muka kepada Allah melalui trance atau ectasy.
Beberapa pandangan ahli tentang apa yang dimaksud dengan tasawuf, antara lain:
Pertama: Al-Hujwiri, menyebutkan bahwa tasawuf itu berarti suci, lawan dari kotor. Tasawuf juga berarti hanya melihat kepada Allah semata-mata-mata. Barangsiapa yang memberikan perhatian pada makhluk maka ia akan binasa dan siapa saja yang memgembalikan sesuatu kepada yang memiliki (Allah) maka ia akan mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Imam Junayd (w. 297/909) berkata, Tasawuf adalah satu sifat yang di dalamnya terletak kehidupan manusia artinya hakikat tasawuf adalah bahwa sifat Tuhan dan sifat manusia lenyap pada hakikat Tuhan. Abu al-Hasan Nuri mengatakan, Tasawuf adalah penyangkalan terhadap semua kesenangan diri sendiri. Artinya, yang dimaksud dengan tasawuf adalah sifat yang meninggalkan segala kesenangan diri. Muhammad bin Ali bin Husen bin Ali bin Abi Thalib menyebut, Tasawuf adalah kebaikan budi pekerti yang lebih baik; orang yang mempunyai budi pekerti lebih baik adalah sufi lebih baik.[5]
Kedua : Imam Qusairy al-Naisyaburi mengutip beberapa difinisi yang diberikan oleh para sufi sesuai dengan pengalaman rohani yang dimilikinya, antara lain ; Muhammad Al-Jariri (w.311H) berkata, bahwa tasawuf ialah: mengerjakan akhlak yang baik dan meningalkan akhlak yang buruk. Zun Nun al-Misry (w.279H) menyebutkan ; Tasawuf adalah engkau tidak memiliki sesuatu dan dimiliki oleh sesuatu. Ruwaim berkata ; Tasawuf ialah membiarkan diri bersama Allãh menurut apa yang dikehendaki oleh Allãh. Al-Kattani (w.222H) mengatakan :Tasawuf ialah akhlak, barang siapa yang bertambah akhlaknya bertambah pula tasawufnya.[6]
Ketiga: Tasawuf pada dasarnya adalah berusaha mencintai Allah, Abu al-Hawary berkata ; bahwa tanda orang yang cinta pada Allah adalah cinta pada taat dan dzikir kepada Allah. Bukti cinta kepada Allah itu adalah berupaya secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Allah. Ia melanjutkan bahwa orang yang tahu tentang dunia maka ia akan zuhud terhadapnya, siapa yang mengenal akhirat maka ia akan mengingininya dan barangsiapa yang kenal akan Allah maka ia akan berusaha mendapatkan ridha-Nya.[7]

B. Esensi Tasawuf.
Islam sebagai agama yang diturunkan pada masyarakat madani (kota), yaitu Mekah dan Medinah dengan mudah dan cepat telah diserap masyarakat secara logis dan rasional. Pemahaman, penghayatan dan pengamalan Islam yang benar dan lurus diperagakan Nabi dengan baik, sehingga dalam waktu singkat nabi berhasil membentuk masyarakat Islam yang kokoh. Mereka hidup tunduk dan patuh melaksanakan kewajiban keagamaan, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Kehidupan yang sederhana dan zuhud dikembangkan sedemikian rupa, sehingga memunculkan istilah Ihsan.
Ihsan adalah ; à ä ÊÚÈÏ Çááå ßÃäß ÊÑÇå ÝÅä áÜã Êßä ÊÑÇå ÝÅäå íÑÇß Artinya : Sembahlah Allãh seakan-akan engkau sungguh melihatnya dan bila tidak melihatnya (memang engkau tidak bisa melihatnya) maka sadarilah bawa Dia sungguh melihatmu (Hadis Riwayat Bukhari- Muslim). Ihsan dimaknai sebagai suatu kondisi atau keadaan seseorang dalam beribadah dan dalam hidup kesehariannya seolah-olahnya melihat Tuhan atau paling tidak merasakan bahwa Tuhan selalu melihat apapun yang sedang dilakukan seorang.
Ihsan adalah penyembahan kepada Tuhannya dengan penuh kesadaran, merasakan bahwa Tuhan melihatnya, Tuhan mengawasinya, Tuhan pun tahu setiap sudut kehidupan, hamba selalu berdiri hadir dihadapan-Nya. Ihsan berarti, bahwa penglihatan Tuhan terhadap hambanya, secara terus menerus tanpa dibatas ruang dan waktu. Abu Nasr al-Sarajj menjelaskan; bahwa Islam itu adalah zahir, Iman itu zahir dan batin sedangkan Ihsan itu adalah hakikat zahir dan batin.[8]
Usaha para zahid mengembalikan kehidupan sosial masyarakat pada kesederhanaan (qanâ’ah), dan berusaha mengidentifikasikan diri dengan Allãh melalui perbuatan terpuji (takhallûqu bi akhlâqil Allãh) dengan menjaga kesucian diri serta melakukan ibadah-ibadah yang membersihkan hati, menjauhkan diri dari pengaruh buruk. Inilah yang kemudian menjadi karakteristik tasawuf, yang meliputi ; the code of the heart (fiqh al-bâtin), or the purification of the soul ( tazkîyatu al-nafs) or feeling of God’s presence (al-Ihsân).[9]
Muhammad Syibly berucap tentang zuhud, zuhud itu sebenarnya adalah gaflah (lalai) di dunia ini tidak ada sesuatu apapun jua yang dia punyai. Zuhud pada yang tak bernilai adalah lalai. Dari bermacam-macam difinisi dan penjelasan tentang zuhud dapat ditarik suatu pengertian bahwa zuhud itu bukanlah orang yang anti dunia, tetapi orang yang tidak mau dijajah oleh dirinya dan dunia material.[10]
Pemahaman tentang zuhud sebagaimana di atas didasarkannya pada ayat-ayat al-Qur’an antara lain :Surat al-Syams :(91:7-8), Surat Al-Jâtshiyah (45: 24),Surat Yusuf (12:53) Surat Al-Ankabut (29 :69 )
Sebagai ilmu tasawuf, merupakan media yang dapat mengantar manusia mengenal penciptanya secara cepat, tepat dan dapat berhubungan dengan terus menerus. Untuk mencapai tujuan tersebut maka mereka mengunakan instrument rasa (dzouq). Disamping itu, juga ada pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf adalah ilmu yang berkaitan erat dengan taqwa, memelihara diri dari kesalahan, memakai pakaian wool kasar. Pendapat yang ekstrim lagi adalah menempatkan tasawuf sebagai sumber kesesatan dan zindik.[11]
Pengembaraan sipritual seseorang mencari Tuhan (salik) tidak mungkin dilaksanakan, kecuali setelah melewati proses penyucian hati. Untuk mendapatkan kebersihan hati maka langkah utama adalah menjalani proses pertama, Takhalli, yaitu penyuciaan hati dari sifat-sifat tercela, baik tercela dalam pengertian akhlak zahir demikian juga halnya pembersihan hati dari akhlak batin, misalnya taubat, zuhud, dan wara’. Kedua, Tahalli, yang memenuhi hati dengan sifat terpuji seperti shabar, tawakul, faqir, taqwa, dan ridha. Ketiga, Tajjali, yaitu adanya bukti konkrit hubungan manusia dengan Tuhan bisa dalam bentuk ma’rifah, mahabbah, uns, wajd dan lainnya. Menurut Al-Kalabazi ada sepuluh maqam, yaitu taubat, zuhud, sabar, faqir, tawadhu’, taqwa, tawakkul, ridha, mahabbah dan makrifah. Al-Thusi mengajukan tujuh maqam, yaitu taubat, sabar, faqir, zuhud, tawakkul, cinta, ma’rifah, ridha. Al-Ghazali menyebut delapan maqam, yaitu taubat, shabar, faqir, zuhud, tawakul, mahabbah, ma’rifah dan ridha[12]. (Padang, 15 Maret 2008)
[1] Disampaikan pada Pengajian Tazkiyatun Nafs, Sumatera Barat, 15 November 2009..
[2] Guru Besar Ilmu Tasawuf pada Fakultas Tarbiyah dan Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang.
[3]Sayyid Husein Nasr, Tasawuf Dulu dan Sakarang, (Jakarta: Pustaka Firdaus,1994),Cet.III. h.19.
[4]Amatullah Amstrong, Khazanah Istilah Sufi Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, (Bandung: Penerbit Mizan,1996)h.289.
[5]Is’ad ‘Abd al-Hadi Qandil, Amin Abd al-Madjid Muhammad Tantiq Al-Hujwiri. Kasyful Mahjub, (Uwaidah, 1973) h. 22-7-8.

[6]Imam Qusyairi, al-Naysaburi, Risalah Qusyairiyah fi ‘ilm al-Tasawwuf, (Qairo: Muhammad Ali Shubaih, 1966),h. 18

[7]Al-Silmî, Abi Muhammad Abdur Rahman bin Husyein, Muhammad bin Musa, Thabaqâti al- Shûfiyah. (Leiden, E. J. Brill, 1960) h. 90.

[8]Abu Nasr Abd Allah bin Ali al-Sarâj al-Thûsy, Kitâb al-Luma’, (Qairo: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1970). h.6
[9]Ansari, Muhammad Abdul Haq, Sufism and Syari’ah, (London : The Islamic Foundation, 1986), h.31.

[10]Ibid, h. 46-7.
[11]Abu Nasr Al-Sarajja, al-Thusy, Al-Luma;…., h.5- 6.
[12]Al-Kalabazi, Abu Bakr Muhammad, Al-Ta’arruf li Mazâhib al-Tasawwuf, (Qairo: Isa al-Babi al-Halabi, 1969) h.29.

2 komentar: